Postcard Terima Kasih

Di salah satu matakuliah di sini diajarin: kalau nanti dapat panggilan wawancara kerja, setelah diwawancara, ucapkan terima kasih atas undangan wawancaranya lalu beri KARTU ucapan terima kasih yang DITULIS TANGAN ke tiap pewawancara. 

Saya lantas inget, setahun lalu pernah ada temen bule warga negara USA saat lagi jalan jalan ke state lain ngirimin saya postcard yang nanya kabar saya dan sharing tempat-tempat yang ia kunjungi di sana PAKAI TULISAN TANGAN. Itu adalah pengalaman pertama saya dikirimi postcard yang ditulis tangan. TERKESAN jadul, tapi so sweet banget. Kartunya masih saya simpen.

Juga, beberapa waktu lalu, di pertemuan terakhir matakuliah, salah satu profesor ngasih amplop yang didalamnya ada kartu ucapan yang DITULIS TANGAN tentang pencapaian tiap mahasiswa dan bangganya beliau sama pencapaian tersebut. Sampe melting bacanya.

Juga, profesor lain saat di akhir semester, beliau ngasih lukisan kecil (YANG DILUKIS SENDIRI OLEH IBU BELIAU) ke tiap mahasiswa. Tiap lukisannya beda dan mereprestasikan kepribadian tiap mahasiswa. Duh, melting banget.

Hal yang mirip, di salah satu kelas ada seorang peneliti (udah bergelar doktor) dari Eropa dg funding Fulbright. Peneliti ini selalu masuk kelas kami, dan interaksi sama tiap mahasiswa dg rutin ikut diskusi. Udah mirip temen sendiri, daripada sbg observer kelas. Pas mau balik ke Eropa, kami diminta profesor untuk nulis ucapan yang DITULIS TANGAN untuk peneliti tsb. Kemudian, baru kasih pelukan perpisahan.

Dari beberapa kejadian di atas, logis banget kalau ngasih KARTU terima kasih yang DITULIS TANGAN merupakan salah satu hack biar lolos wawancara jadi profesor di USA. Jadi dosen di Indonesia aja terbilang kompetitif, apalagi untuk jadi dosen di USA. Tapi, terlepas sekedar untuk lulus wawancara aja, budaya ucapkan terima kasih secara lisan dan tulisan ini bener-bener bagus diterapin di berbagai kesempatan.

Comments

Popular posts from this blog

Jangan pernah merasa lebih pintar dari orang yang menyuapimu makan

JANGAN TERBALIK

ETIKA