Kabar

Saya punya meeting mingguan sama Prof A. Rapat penelitian selama 1 jam, tapi seringnya hampir 30 menit pertama Prof A cuma nanya kabar ke semua tim penelitian (seluruh anggotanya adalah bimbingan Prof A). Nanya gimana adaptasi, udah punya selimut apa belum untuk persiapan musim dingin, sampai nanya kabar keluarga di negara masing-masing.


Juga, sekitar 2 minggu yang lalu ketemu Prof B mau bimbingan book review. Pas saya baru masuk, beliau langsung nanya kabar saya dan istri. Padahal istri gak ikut. Hampir 20 menit pertama, beliau nanya kondisi saya dan sharing kehidupan di US. 40 menit setelahnya beliau baru bahas book review yang mau saya submit ke jurnal.

Juga sekitar sebulan lalu, saya ke kantor Prof C. Ketemu sebentar sekitar 20 menit. Tapi, hampir 15 menit pertama, Prof C nanya kabar saya dan menawarkan beberapa bantuan kalau saya mengalami kesulitan dalam riset.

Juga meeting-meeting sebelumnya, UMUMNYA para Prof ini gak langsung nanya, "mau ngapain?" atau "Laporannya udah sampe mana?"

UMUMNYA, mereka mengawali dengan nanya kabar saya dan keluaga. Memastikan bahwa mahasiswanya baik-baik saja. Padahal US itu terkenal sbg negara yang to the point, tapi saya sejauh ini meresa benar-benar sebagai maanusia. Bukan robot yang ujug-ujug ditanya tugas, diingatkan deadline, diminta ngejar target. Seakaan kita bukan manusia yang nggak punyaa kehidupan lain selain kerja/ belajar.

Berasa jengah nggak sih kalau kita kerja/ belajar, tapi di tempat kerja/ belajar, tapi bos/ guru cuma bahas kerjaan, tugas, deadline, tumpukan kertas yg nunggu dikerjain, tanpa mereka peduli jika misal kita punya orang tua yang sakit/ anak yang lapar di rumah/ sering puasa karena gaji habis bayarin uang sekolah adik-adik?

Dari sini saya mulai make sense, kenapa US bisa menghasilkan para ilmuan besar.


Comments

Popular posts from this blog

JANGAN TERBALIK

Jangan pernah merasa lebih pintar dari orang yang menyuapimu makan

ETIKA