Suara

Beberapa waktu lalu diminta untuk jadi pemimpin upacara peringatan kemerdekaan RI di kota Columbus, USA. Karena sering maksimalin volume suara, ya saya terima tawaran tersebut.


Dulu, saya pernah ngajar di sekolah yang satu kelas terdiri dari 50an orang. Mau gak mau kan harus ngeluarin volume maksimal. Terlebih, di sekolah itu juga gak ada alat bantu ajar sama sekali. Biar anak-anak gak cepet ngantuk ya perlu maksimalin volume suara di kelas.

Juga, pernah ngajar di sekolah yang atapnya itu bolong-bolong. Dinding kelas mau roboh. Udah retak-retak. Untuk gedung saja, mereka kewalahan menyiapkan kelas yang layak sebagai tempat belajar. Wah, untuk urusan teknologi pembelajaran yang bisa bikin kelas menyenangkan mana ada budget untuk itu. Alhasil, memainkan volume suara adalah salah satu cara biar belajar gak begitu ngebosenin.
Pengalaman-pengalaman itu bikin saya saat ini fokus ke teknologi pendidikan di kelas matematika. Belajar coding biar bisa bikin app so siswa-siswa di sekolah di daerah-daerah "tertinggal" itu punya kesempatan belajar yang sama dengan siswa sekolah elit.
Saya nanya ke beberapa mahasiswa saat upacara. Mahasiswa S1 yang sedang kuliah di Columbus umumnya berasal dari sekolah swasta elit semacam Penabur, Pangudi, Labschool, Al-Azhar. Untuk mahasiswa pasca sarjana, umumnya mereka berasal dari sekolah negeri terkemuka dan kampus-kampus negeri besar.
Akan indah jika setiap anak punya kesempatan belajar dengan kualitas yang sama, atau minimal hampir sama, so Indonesia bisa lebih cepat bisa sejajar dengan negara-negara maju

Comments

Popular posts from this blog

JANGAN TERBALIK

Jangan pernah merasa lebih pintar dari orang yang menyuapimu makan

ETIKA