Amerika katanya

Amerika yang katanya terkenal individualistik, tapi ternyata mereka punya program sosial yang keren. Contohnya, saat ini saya lagi nunggu istri pelatihan bahasa Inggris di salah satu perpustaakaan di dekat apartemen.


Program ini, sepertinya, tujuannya untuk membantu para imigran bisa lebih lancar berkomunikasi dalam bahasa inggris.
Sebelum pelatihan, istri saya, dan para peserta lain, ambil placement test di salah satu lembaga literasi milik pemerintah. Lembaga literasi tapi punya interior desain seperti perusahaan startup. Juga, petugasnya ramah-ramah banget. Kalau program ini berbayar, entah berapa puluh juta uang yang harus dikeluarkan untuk segala fasilitas dan keramahan para pegawai negeri dan volunteernya.
Contoh lain dari kerahaman Amerika adalah para pengungsi dari negara-negara konflik, seperti Palestina, Somalia, Myanmar, dll, diterima di negeri ini dengan pelayanan yang ramah. Anak-anak mereka dapat fasilitas sekolah gratis. Orang tuanya pun dapat pelatihan berbahasa, baik dari lembaga pemerintah maupun swasta. Para pengungsi dan imigran ini pun juga bisa bekerja. Duh, kerja di Amerika walau cuma jadi tukang cuci piring itu bakal bisa beli mobil sendiri. Walaupun katanya sekarang lagi inflasi, lowongan pekerjaan tetap melimpah. Di sepanjang jalan, banyak toko buka lowongan pekerjaaan.
Mungkin banyak yang sebal dengan Amerika yang (dulu) sok menjadi polisi dunia. Tapi, itu kan kebijakan dari pimpinan puncak yang belum tentu representasi dari keinginan keseluruhan rakyat Amerika.
Kita juga nggak mau kan beranggapan bahwa keputusan yang diambil pimpinan kementrian di Indonesia, misalnya rencana pemblokiran google karena belum daftar PSE, adalah keinginan seluruh rakyat Indonesia.
Begini lah Amerika yang katanya individualistik dan materialistik, tapi punya kepedulian sosial yang tinggi. Sebuah fenomena yang sangat menarik.
NB: Gambar cuma untuk pencitraan

Comments

Popular posts from this blog

JANGAN TERBALIK

Jangan pernah merasa lebih pintar dari orang yang menyuapimu makan

ETIKA