IBU-IBU

Seorang teman sekelas, seorang ibu dengan tiga anak, ambil 5 matakuliah per semester (beban 1 SKS di USA dan di Indonesia, yang saya rasakan sangat berbeda jauh). Suaminya pun ambil S3 tapi di kota lain di USA. Tapi tetap saja beliau bisa perform dengan sangat luar biasa di kelas dan tetap menjadi ibu yang luar biasa bagi anak-anaknya. Anak-anak beliau yang masih SD bahkan sudah nerbitkan buku.

Juga, ada teman saya yang lain, ibu dengan dua orang anak. Suaminya juga kuliah S3 tapi di benua yang berbeda. Juga dengan manajemen waktu yang entah bagaimana bisa tetap perform luar biasa bagus dan merawat anak-anaknya juga dengan sangat bagus.

Saya yang ambil matakuliah lebih sedikit dan cuma berkewajiban menjaga diri sendiri saja pun sangat kewalahan dengan ritme perkuliahan di USA. Saya ke perpus/ studi room itu LITERALLY setiap hari, bahkan termasuk hari sabtu dan minggu. dari pagi setelah subuh sampai tengah malam masih sering buka laptop. Hanya saja biar nggak stress, saya berusaha ada kegiatan selingan, entah nonton pertandingan olahraga, atau ngobrol ngobrol dengan temen dari berbagai background. Walaupun sudah berusaha belajar sebegitu lama tapi performa saya jauh di bawah siswa lain, bahkan teman-teman yang harus belajar sambil ngurus banyak anak.

Ibu-ibu ini entah bagaimana manajemen waktunya, tapi yang saya tahu, ibu-ibu ini sudah sangat sempurna menjadi teladan perihal apa itu kerja keras dan manajemen waktu yang baik bagi anak-anaknya. Anak-anak mereka setiap hari melihat perilaku orang orang tuanya belajar, bahkan ada teman yg sering nangis saat belajar karena saking sulitnya memahami materi tersebut dipelajari. Ada ibu yang baru bisa belajar tengah malam nunggu anaknya tidur. Ibu-ibu ini sering tidak bisa nonton pertandingan olahraga seperti yang saya lakukan. Ibu-ibu ini sangat luar biasa dalam menentukan prioritas agar anak-anaknya tetap bisa beradaptasi dengan perbedaan budaya dan bahasa di sini.





Saya saja yang dulu ngeliat ibu saya kerja macam-macam (yang penting halal) biar saya nggak putus sekolah, bisa punya energi luar biasa besar bagi saya untuk lakukan lompatan yang terbilang jauh. Dari orang tua yang nggak lulus sekolah dasar sampai saya bisa longkap ke program doktoral. Ini bukan karena saya pintar, tapi lebih kepada memori saya merekam pengorbanan ibu kerja pagi-malam, bahkan sampe dihina orang.

Itu yang terjadi sama saya. Saya nggak kebayang bagaimana efek perjuangan ibu ibu ini di memori anak-anaknya. Dengan sangat mudah diduga, anak-anaknya ini akan menjadi anak luar biasa. Dan, hebatnya anak-anak ini karena memiliki ibu (dan ayah) yang hebat.


Comments

Popular posts from this blog

JANGAN TERBALIK

Jangan pernah merasa lebih pintar dari orang yang menyuapimu makan

ETIKA