PRIVILEGE

Nggak sedikit teman-teman sekelas saya yang nangis. Mereka berasal dari keluarga luar biasa. Orang tua mereka bahkan mengaggap mereka sebagai "anak-anak gagal". Bayangkan, menjadi mahasiswa doktoral di kampus yang terbilang bagus tetapi tetap gak dihargai oleh orang tua.

Mereka merasakan tekananan karena berasal dari keluarga kaya dan terpelajar.
Matakuliah equity ini memang bagus. Kita saling sharing dan mendengar cerita mahasiswa lain.
Sebelumnya, saya pikir menjadi anak dari keluaga kaya dan terpelajar (plus lahir dan tumbuh dari negara-negara maju) adalah suatu privilege tersendiri. Tapi, nyatanya beberapa mahasiswa doktoral ini mengalami tekanan besar dari keluarga mereka. Bahkan, mereka sampai nangis di depan lebih dari 30 orang.
Saya mulai merasa bahwa saya yang bukan dari keluarga kaya dan bukan dari keluarga terpelajar (kedua orang tua saya nggak lulus SD dan pekerjaan orang tua saya adalah pekerjaan yanng dianggap rendah oleh beberapa orang, but I'm SOOO PROUD of my parents!) adalah privilege yang Allah berikan pada saya.
Orang tua saya cuma bilang, "mau jadi apa aja boleh asal jangan ninggalin solat"
Saya gak ada tekanan sama sekali, dan bebas mau jadi apapun.
Kalau saya adalah anak orang kaya maka temen SD saya gak akan menghina "profesi" ibu saya. Maka, saya gak akan punya "bahan bakar" sebegini besar untuk terus sekolah dan menjaga harga diri orang tua saya.
Allah memang selalu luar biasa dalam ngasih privilege sesuai kondisi tiap hamba-Nya. So, gak perlu iri dengan bentuk privilege yang Allah kasih pada orang lain. Kita gak pernah tau luka dibalik privilege tersebut.
Kalau merasa kurang dengan kondisi yang Allah kasih ya bergerak lah. Kita ini manusia. Bukan adonan yang cuma didiemin aja bisa berkembang
NB: foto ini gak ada hubungan dengan cerita temen-temen kuliah saya yang mengalami tekanan dari keluarganya.



Comments

Popular posts from this blog

JANGAN TERBALIK

GERIMIS, KESEHATAN, DAN NETWORKING

Jadi Malu