India, Engineering, and CEO

Adaptasi kuliah di luar negeri benar-benar bikin stress, tapi ternyata liburan kuliah itu ternyata jauuuh lebih bikin stres. Entah kenapa saya gak bisa sendirian padahal saya adalah orang introvert. Belajar harus ada orang di sekitar saya. Kalau belajar sendirian di apartemen tanpa orang malah gak ada ide sama sekali buat nulis artikel atau ngerjain tugas. Itu kenapa saya sering belajar di luar, entah di perpus atau study room apartemen.

Untungnya, setelah 2 minggu liburan, akhirnya di ruang belajar apartemen udah mulai rame. Minggu depan awal perkuliahan spring 2022. Beberapa mahasiswa udah mulai baca baca artikel untuk persiapan kuliah.

Mostly, yang belajar di study room ini adalah siswa siswa internasional dari Asia Timur dan India. Saya mau bahas sedikit tentang mahasiswa India. Sering mereka belajar dari pagi sampai malam di study room. Study room selalu dipenuhi orang-orang dari India.

study room University VIllage
sumber: dokumen pribadi



Saya sudah lama dengar bahwa siswa India terkenal ulet dan jenius, tapi saat melihat secara langsung perilaku mereka di USA, saya mulai make sense kenapa kok perusahaan raksasa dunia dipenuhi CEO dari India. Sebut beberapa yang sangat populer seperti Sundar Pichai (di Google), Parag Agrawal (di Twitter), Satya Nadella (di Microsoft), Arvind Krishna (di IBM), Shantanu Narayen (di Adobe).

Sangat menarik sebenernya untuk nyari tahu lebih lanjut perihal kebiasaan mahasiswa India di USA. Mungkin suatu hari nanti saya bisa lakukan studi etnografi perihal siswa India biar lebih paham kenapa kok perusahaan raksasan dunia sangat suka dengan mereka.

Sampai saat ini, yang saya tahu hanya lah mereka sangat jenius. Hampir semua mahasiswa India di sini ada di college of Engineering. Jelas bahwa college of Engineering merupakan fakultas paling menantang untuk dimasuki. Kejeniusan mereka sepertinya juga diasah karena mereka sangat rajin belajar. Mereka menghabiskan sangat banyak waktu di perpustakaan. Menariknya, mereka juga relatif balance kehidupannya dibandingkan mahasiswa Asia lain. Fitness center juga dipenuhi siswa dari India.

Saya pernah nulis bahwa mahasiswa di sini umumnya memiliki tubuh atletis, termasuk mahasiswa di pasca sarjana. Mahasiswa yang kurang proporsional umumnya adalah siswa internasional, tapi tidak dengan siswa dari India. Banyak dari siswa India punya tubuh proporsional. Jadi lebih menarik bukan, kok bisa mereka jenius tapi juga tetap bisa punya tubuh yang proporsional.

Umumnya, di kampung saya, orang yang cerdas punya bentuk badan gak ideal. Entah terlalu gemuk atau terlalu kurus. Pun sebaliknya, masih di kampung saya, mereka yang punya tubuh bagus biasanya tidak begitu outstanding di kelas. Sekali lagi, ini cuma kasus di kampung saya dan sekedar pendapat pribadi.

Saya sedang tidak mengatakan bahwa bentuk tubuh adalah prioritas. Hanya saja, menjadi menarik bahwa mereka bisa begitu seimbang dan menjadi pucuk pimpinan di perusahaan raksasa. Perusahaan raksasa ya bukan perusahaan lokal.

Mungkin kalau mau seperti mereka, bisa menerapkan teori 3x. jika mereka spend, misal, 3 jam belajar maka kita perlu nyediakan waktu 9 jam belajar. Sangat challenging memang, tapi jika ditiru dan ditingkatkan, bukan tidak mungkin, kita juga bisa membuntuti India jadi pucuk pimpinan perusahaan raksasa.


Comments

Popular posts from this blog

JANGAN TERBALIK

GERIMIS, KESEHATAN, DAN NETWORKING

Jadi Malu