YOU ARE A REAL DOCTOR

Sekitar sebulan lalu saat kami sedang berenang, teman saya dari Ukrania yang sedang ambil program doktoral/ S3 komentar ke teman Amerika saya, "you are a real doctor". Memang teman Amerika saya ini sedang ambil program dokter, dan saat ini sedang koas.


Teman Amerika yang lagi koas ini selalu tanya kabar. Memang orang Amerika memang hobi tanya kabar, mereka akan tanya "how are you?" atau kalimat yang sejenis dengan itu. Tapi, teman saya ini nanya kabar dalam level yang berbeda. Walaupun kami ada di jurusan berbeda tapi karena kami sering renang bareng jadi doi tau kondisi bapak saya yang baru pulang dari rumah sakit, tau kalau istri saya akan ke USA, tau stres nya saya belajar di USA karena perbedaan style belajar yang jauh berbeda antara Indonesia-USA.

Doi ini setiap kali ketemu selalu nanya tentang keluarga saya. Dan, cara doi ngomong ini bukan kepo yang menyebalkan tapi lebih kepada nunjukin care. Itu kenapa juga saya malah banyak cerita sama doi padahal gak ada niat cerita apa apa tentang kondisi saya dan keluarga. Cara doi nanya malah bikin saya ngalir cerita.

Ini yang jadi alasan teman Ukrania saya ini komen ke doi, "you are a real doctor. Kamu selalu peduli hal-hal kecil yang orang lain alami".

Karena kondisi kesehatan ibu, saya jadi sering banget bolak balik rumah sakit selama 6 tahun terakhir. Banyak tipe dokter yang udah kami temui. Tipe dokter yang paling disukai oleh ibu saya, dan spertinya juga oleh banyak pasien lainnya, adalah dokter yang suka nanya bahkan pada hal-hal kecil. Dokter yang saat pasien mengeluhkan penyakit dan gejalanya, dokter tersebut sabar mendengarkan. nggak terkesan buru-buru minta pasien untuk segera pulang. ini adalah dokter yang sesungguhnya.

Sebenarnya peduli pada hal-hal kecil tidak hanya bermanfaat bagi dokter, tapi pada semua profesi.

Saya jadi ingat sekitar seminggu yang lalu dosen pembimbing saya buat permainan dg beberapa mahasiswa. Setiap dari kita menyebutkan 3 kalimat tentang diri kita. 2 diantarnya adalah fakta, 1 tersisa haruslah data fake. Lantas, orang lain harus menebak mana dari ketiganya yang merupakan fake.

Saat tiba giliran saya menyebutan 3 data tentang saya, dosen pembimbing bukan cuma bisa memilih dengan benar 1 data fake tentang saya tapi beliau juga dengan tepat menganalisi 3 data tersebut dengan menjabarkan semua hal-hal kecil yang beliau tau tentang saya. Memang, seperti teman saya yang dokter kaos, dosen pembimbing saya juga sangat rajin nanya kabar dan hal-hal kecil lainnya.

Ternyata dengan cuma mengetahui dan peduli akan hal-hal yang mungkin dianggap remeh oleh orang lain, cukup untuk membuat orang merasa senang dan merasa sangat dihargai, bahkan bisa mengubah hidup orang lain.



Comments

Popular posts from this blog

JANGAN TERBALIK

Jadi Malu

Jangan pernah merasa lebih pintar dari orang yang menyuapimu makan