TUGAS KITA BUKAN UNTUK BERHASIL

Saya tau ini akan menjadi screenshot dan status saya paling norak, tapi berbagi ilmu yang didapatkan dari orang-orang hebat yang saya temui adalah sesuatu yang selalu menyenangkan.

Awal saya datang ke USA adalah sangat excited. Impian zaman SMA terwujud. tapi saat sudah masuk kelas, dan.. ya memang saya paham bahwa saya akan bertemu dengan orang-orang hebat, tapi saat benar-benar sudah berada di kelas dan bertemu secara langsung dengan siswa Amerika dan siswa internasional lainnya, saya langsung merasa cemas luar biasa. Cemas akan kemampuan bahasa inggris saya yang masih sangat kacau.

Teman-teman siswa internasional lain sungguh sangat luar biasa cerdas dan mereka ngomong bahasa inggris dengan sangat lancar. Di kelas mereka sangat aktif. tunjuk tangan. nyatakan pendapat. Menyanggah atau menambahkan pendapat. Kelas sangat aktif, dan seharusnya menjadi kelas yang sangat menyenangkan. Tapi karena kemampuan berbahasa inggris saya yang masih di bawah rata-rata, saya lebih banyak diam. Lama-lama saya stress. Stress yang benar-benar stress.

Saya mulai mikir bahwa saya akan gagal kuliah di USA, bahkan di tahun pertama. Saya sering nggak nangkap apa yang dijelaskan oleh para profesor. Saya sering banget konfirmasi ke temen-temen perihal apa yang tadi dijelasin dosen di kelas.

Satu bulan pertama kuliah di USA, saya benar-benar lost di kelas. Teman-teman saya dari Indonesia umumnya mereka dengan mudah beradaptasi dengan bahasa dan style belajar USA karena mereka umumnya adalah lulusan kampus luar negeri. Berbeda dengan saya yang produk lokal dan merasa kesulitan beradaptasi.

Alhamdulillah, saya diberi dosen pembimbing yang luar biasa care. Saya sering ketemu beliau. Minimal kami ketemu seminggu sekali, entah diskusi research atau pun sekedar konsultasi perihal adaptasi belajar.

Setiap kali ketemu, beliau nanya "gimana adaptasi di USA? bagaimana pelajaran di kelas? apa yang bisa saya bantu?". Beliau tau saya stres karena sering nggak paham sama apa yang dijelasin dosen. Beliau sering bilang, "it's okey, ini pertama kamu di USA. butuh waktu untuk penyesuaian". Setiap kali ketemu, beliau pasti nanya perihal adaptasi saya di USA, lantas ngasih masukan dan semangat. Simpel memang, tapi dukungan terus menerus seperti ini sangat membantu.

Lantas, setelah dapat motivasi terus-menerus dari beliau, saya mulai ubah strategi belajar. Setidaknya walaupun saya gagal, saya gagal setelah berjuang habis-habisan. Toh tugas kita bukan untuk berhasil kan, tapi tugas kita adalah untuk mencoba.

Saya mulai menghabiskan waktu saya di ruang belajar apartemen di pagi hari, dan di perpustakaan kampus dari siang sampai sore atau sampai malam jika tidak ada kelas di malam hari. Hari sabtu dan minggu pun sering saya habiskan waktu di study room atau perpustakaan.

Saya sampe nanya ke dosen pembimbing, "saya sering banget ngecharge laptop, dan makai laptop dari pagi sampai malam. Kalau laptopnya rusak bagaimana?" saya nanya begini karena saya dapat laptop dari dosen pembimbing. Beliau jawab, "saat ini itu laptop kamu, itu bebas kamu aja mau diapakan laptopnya".

Setelah satu semester belajar, akhirnya saya bisa nafas lega karena dapat IP 4.0 . IP sempurna. Okey memang kuliah di amerika itu terkenal dengan dosen yang sangat murah nilai. Tapi, sungguh style belajar di amerika itu jauh beda dengan style belajar di indonesia. Tugas di sini benar-benar luar biasa banyak dan challenging. Terlebih untuk orang yang bahasa inggrisnya masih kacau balau seperti saya. Jadi jauh lebih menantang.

IPK pertama saya di semester 1 program doktoral


Hikmah yang bisa saya ambil, beberapa diantaranya: sebagai guru/dosen harus care sama murid. Mengajar itu bukan perihal ngasih tau bahwa satu tambah satu sama dengan dua. Hal hal teknis seperti ini dengan sangat mudah bisa dipelajari sendiri oleh murid di era youtube seperti saat ini. Care. Kepedulian yang terus menerus. Menunjukan kepedulian akan mengubah masa depan seseorang.

Selain itu, jika kemampuan masih di bawah rata-rata, maka belajar lah di atas rata-rata orang lain. Dosen pembimbing saya bilang, "kali lah 3 dari waktu yang dibutuhkan orang lain". Misal, jika orang orang cerdas butuh waktu 2 hari untuk menyelesaikan suatu tugas, maka kita harus menyiapkan waktu 6 hari untuk menyelesaikan tugas tersebut. Artinya kita harus membaca, menganalisis, dan menghabiskan waktu belajar lebih lama dari orang-orang lain. Teknik ini saya terapkan, dan berhasil.

Walaupun saya masihh jauh di belakang teman-temen saya yang cerdas cerdas luar biasa ini, tapi setidaknya dengan teknik 3x yang diajarkan dosen pembimbing, saya jadi bisa mengikuti mereka. Minimal saya udah nggak stress.

Comments

Popular posts from this blog

JANGAN TERBALIK

GERIMIS, KESEHATAN, DAN NETWORKING

TERJEBAK OLEH KEJAYAAN MASA LAMPAU