Polyglot dan Hanphone

Dulu, saat masih mahasiswa S1, saya sering kagum banget sama orang orang luar biasa cerdas, tapi makin nambah umur saya jadi sadar bahwa ternyata orang orang yang mengagumkan adalah orang-orang yang dapat memperlakukan orang lain dengan baik walaupun orang lain tersebut tidak lebih cerdas, tidak lebih kaya, dan tidak lebih lainnya dari dirinya

Kemarin sehabis nganterin temen ambil kartu mahasiswa di gedung student union, diajak makan siang oleh temennya temen. Karena belum dapat izin nulis nulis nama mereka, maka sebut saja temen saya adalah Arif dan temennya temen saya ini adalah Budi.
Ternyata Budi akan jadi temen sekelas saya nanti di spring 2022. Menakjubkannya, ternyata Budi adalah seorang polyglot yang menguasai 11 bahasa, mulai dari bahasa Jerman hingga bahasa Persia.
Luar biasa
!
Namun, yang menjadi lebih
luar biasa
adalah saat sedang di meja makan, Budi dengan sangat balance nya bolak-balik lihat saya dan teman. Saya sering lihat orang yang bisa dengan mudah membagi perhatian pada lawan biacaranya, tapi Budi ada pada level yang berbeda. Benar benar seimbang membagi waktu melihat saya dan Arif. Saat sedang bicara, Budi lihat saya, lantas beberapa detik kemudian lihat Arif, lantas balik ke saya lagi, terus lihat Arif lagi. Begitu seterusnya. Pembagian waktunya benar benar seimbang. Terlebih, saya adalah orang baru bagi Budi.
Bahkan saat sedang di mobil. Budi nyetir, Arif duduk di sampingnya, dan saya duduk di belakang. Saat Budi sedang bicara, matanya tetap membagi waktu secara seimbang lihat ke samping (untuk lihat Arif) dan kaca spion dalam (untuk lihat saya).
Mengingat Budi adalah seorang Polyglot yang bisa bicara dalam bahasa Chinese, English, French, German, Italian, Japanese, Persian, Portuguese, Serbian, Spanish, Arabic., sedangkan saya, bahkan sekedar bicara bahasa Inggris saja, masih belepotan. Budi dengan sangat luar biasanya menghormati lawan bicara yang jauh kecerdasannya di bawahnya. Bahkan Budi hanya lihat handphone saat sudah mau pulang untuk lihat jam.
Sering kan lihat orang orang yang saat kita sedang makan malah mereka sibuk dengan handphonenya? atau juga saat sedang ngobrol, mereka malah nunduk lihat layar handphone, bahkan nggak ngelirik lawan bicaranya. Padahal sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah saw adalah menghadapkan seluruh badan pada lawan bicara.
Adab berbicara, simple memang. tidak sering melihat handphone saat sedang berbicara dengan orang lain, tapi sudah sering kita lupakan. Hanya dengan memperhatikan lawan bicara tanpa sedikit sedikit cek handphone sudah cukup untuk membuat orang lain merasa dihargai, dan ini adalah sunnah


Comments

Popular posts from this blog

JANGAN TERBALIK

GERIMIS, KESEHATAN, DAN NETWORKING

Jadi Malu