Burung akan memilih terbang dengan burung yang berwarna sama dengannya

Pada kondisi apa identitasmu turun?

Ini adalah pertanyaan dari teman Amerika di salah satu matakuliah. Mereka menempelkan beberapa kertas karton di empat sisi tembok kelas. Lantas, tiap karton berisi beberapa pertanyaan yang kita bisa isi sesuai pendapat kita masing-masing. Style khas belajar di Amerika adalah tidak ada jawaban benar atau salah (kecuali matakuliah eksak). Semua pendapat benar, dan setiap usaha berpendapat selalu dihargai.

Salah satu teman Indonesia yang ambil matkul yang sama nulis di karton tersebut, "saat menjadi mayoritas" untuk pertanyaan tersebut. Beberapa saat kemudian, ada teman Indonesia lainnya yang berkomentar, "Bukannya kalau jadi mayoritas malah identitas jadi naik?"

Saya dalam hati, "menarik juga, orang yang berasal dari kultur yang sama, tapi berpendapat saling bertolak belakang".

Saya mau berbagi pengalaman saya perihal identitas saya yang naik/ turun ini selama di USA.

Setelah sekian lama menjadi mayoritas, sebagai Muslim dan pribumi, di Indonesia, saat ini saya merasakan apa itu minoritas. Menjadi Muslim dan berasal dari negara di Asia Tenggara tentulah bukan jumlah terbanyak di Amerika Serikat. Identitas memang ada banyak sekali, tapi di tulisan ini identitas saya batasi pada "Muslim" dan "Indonesia". Untuk memudahkan menulis dan memberi contoh.

Hampir setiap hari, bahkan malah hampir di setiap Sabtu dan Minggu juga, saya "nongkrong" di perpustkaan kampus dari sebelum zuhur sampai setelah Isya. Perpus selalu ramai, bahkan di hari sabtu dan minggu. Selain karena saya selalu buntu gak dapat ide kalo belajar sendirian di rumah, saya juga pengen solat jamaah dg Muslim lain di perpus.

Beruntungnya, di perpustakaan ada musolah yang cukup luas. Malah kalau mau bisa dipakai jumatan karena cukup untuk 40 orang. Saya selalu duduk dekat musolahh tersebut biar mudah solat jamaah di keempat waktu solat dari zuhur sampai isya.

Lucunya, saya solat berjamaah jauuuh (sengaja u- nya dibanyakin) lebih rajin saat ada di USA daripada saat saya di Indonesia. Malah, saya juga ikut Halaqoh belajar makhroj dan tajwid di masjid yang ada di dekat apartemen. apartemen saya posisinya sangat bagus. selain dekat kampus, juga dekat masjid.

Di halaqoh itu banyak banget para hafidz yang bacaan Al-Quran nya indah luar biasa. dan mereka masih sangat muda. Hafidz yang tergabung di halaqoh itu umumnya adalah mahasiswa S3 di jurusan teknik.

Masjid Omar, tempat Halaqoh
Sumber: dokumen pribadi


Saya selalu mikir, "kok bisa ya ada orang pinter di teknik, yang umumnya didominasi orang orang cerdas otak kiri karena harus banyak belajar matematika fisika, tapi juga pinter baca Alquran juga bisa hafalin banyak surat Al-Quran?"

Saya juga sering mikir, "ini saya lagi kuliah di Amerika atau di Mesir sebenernya ya?"

Menjadi minoritas malah menyadarkan diri saya sebagai seorang Muslim. Padahal di Indonesia saya termasuk yang males malesan belajar makhroj. Tapi di sini, udara minus saja juga saya lalui biar bisa sampai ke masjid.

Tadi identitas saya sebagai muslim. kini contoh Identitas saya sebagai orang Indonesia:

Walaupun saya seorang introvert, tapi saya usahakan banyak berkomunikasi dg orang orang Amerika. Tujuan utamanya biar sering ngomong pakai bahasa Inggris. Biar bahasa Inggris saya terlatih. Beruntung saya bisa kenal beberapa orang Amerika, baik temen sekelas, temen dari jurusan berbeda, dan temen di luar lingkungan kampus.

Walau berusaha nyari temen orang Amerika asli, tapi saya sering banget ngerasa pegel. ngomong bahasa Inggris saban hari itu kadang melelahkan. Proses kognitif nya terlalu banyak buat saya. Secara pribadi, saya lebih nyaman ngobrol sama orang-orang Indonesia. Kalo ketemu orang Indonesia, ngobrol jadi lancar dan nyaman.

Di titik ini saya baru sadar kenapa ada kelompok yang kesannya lebih suka ngumpul sesama kelompok mereka saja. Mereka terkesan ekslusif. Mungkin ini masalah kenyaman saja. Burung akan memilih terbang dengan burung yang berwarna sama dengannya.

Bahkan ketemu dan ngobrol dg teman-teman dari Malaysia pun juga membuat nyaman. Di perpus saya kenal beberapa teman dari Malaysia. Nyaman ngobrol sama mereka karena kami tau culture masing masing. Saya juga bisa ngobrol pakai bahasa Indonesia. Walaupun agak berbeda dg bahasa Malaysia tapi kami paham apa yang dimaksudkan masing-masing.

Juga, kalau ketemu barang dari Indonesia seperti ketemu harta karun. Bisa ketemu sambel ABC aja senengnya bukan main.

Saat di Amerika, malah saya lebih merasa mencintai Indonesia dari pada saat saya ada di Indonesia

Dari pengalaman saya ini, saya setuju dg pendapat teman saya bahwa identitas naik saat menjadi minoritas.

Mungkin, bagi teman-teman yang ingin menjadi Muslim yang lebih baik, bisa berkelana. Menjauh dari tempat asal. Mungkin ini pula yang jadi alasan kenapa banyak ulama yang menuntut ilmu jauh dari tempat kelahirannya. Untuk menjadi versi yang lebih baik dari sebelumnya.






Comments

Popular posts from this blog

JANGAN TERBALIK

Jangan pernah merasa lebih pintar dari orang yang menyuapimu makan

ETIKA