I Like Your Shoes

Kamis malam dua minggu yang lalu hujan. Cukup lebat. Walaupun sudah pakai payung tapi baju, tas, sepatu saya basah. Saya pakai payung berdua teman. Doi saat itu gak bawa payung. Wajar barang barang saya basah karena pakai payung kecil berdua.

Esoknya, saya mau ke kampus. Nggak ada jadwal kuliah. Cuma mau ke perpus. Ngerjain tugas di sana lalu jumatan di kampus. Ohya, untungnya, kampus saya kuliah ini sangat menghargai kesetaraan jadinya muslim diberi tempat jumatan di dalam kampus.
Kembali ke cerita. Saat mau jalan, sepatu saya masih basah. Sebenarnya saya bawa sepatu lain dari Indonesia, tapi sepasang sepatu lain itu rusak. Solnya mau lepas. Ini karena saya bodoh banget, naruh sepatu tersebut di dryer dan nyetel pemanasnya kelewat tinggi. Jadilah rusak.
Ada opsi sepatu lain yang bisa saya pakai. Sepatu yang saya beli di thrift store sekitar 2 bulan setelah sampai USA. Itu sebenernya sepatu musim dingin. Warnanya ungu. Saat itu saya beli buat jaga jaga aja khawatir turun salju. Toh harganya murah karena nemu di thrift store (di USA banyak banget toko barang bekas dg kondisi barang barang yg masih bagus banget. Bisa nemu barang branded dg harga skitar 10-20% dr harga baru nya).
Karena sepatu yg mungkin dipakai hanya sepatu musim dingin berwarna ungu tersebut, saya pakai lah sepatu itu. Saya mah bodo amat kalo perihal barang barang yg dipake. Selama gak ngerugiin orang lain, bodo amat apa yg orang lain pikirin. Terlebih, sifat orang amerika yang juga gak suka campurin hal yg bukan urusannya.
Bayangin, di musim gugur tapi pakai sepatu musim dingin dan warna sepatunya itu ungu. Ada dua atau tiga orang yg ngeliatin pas saya make sepatu itu tapi kembali lagi: bodo amaaat.

sepatu musim dingin saya


Saat mau berangkat jumatan dari perpus, saya ketemu teman Amerika. Doi bilang: "I like your shoes". Lantas saya ngeliat dia, senyum dan bilang "thank you!".
Kalau di kampung saya, kemungkinan besar saya akan dapat komen: "dih norak banget sepatunya", atau "orang udik!", atau cukup ngeliat dengan tatapan merendahkan yg you know lah bagaimana tatapan temen ngeliat style kita yg terlihat berbeda dari kebanyakan orang umumnya.
Saya juga pernah beli topi di dollar tree (toko yg menjual berbagai macam barang dg hanya seharga $1). Saat saya pakai topi tsb, beberapa orang komen, "I like your hat". Hal positif yang saya temukan dari teman teman USA saya adalah mereka selalu menunjukan respek pada orang lain.
di kampung saya kalau saya ketawan pakai topi murah, wah bisa dikomen negatif atau minimal dibercandai dg nada negatif. Mungkin maksudnya bercanda, tapi seringkali menggunakan kata kata negatif.
MUNGKIN. Sekali lagi, MUNGKIN ini yang membuat teman teman Amerika saya sangat aktif di kelas. Mereka berani mengemukakan pendapatnya. Di kelas, umumnya, dosen sangat menghargai setiap pendapat dg bilang "good idea", "thank you for your response" walaupun kadang mahasiswa mengemukakan silly idea
Di kampung saya dulu tidak jarang, ada dosen yg komen, "kalau gak bisa ngasih pendapat yang bener, mending diem", atau "ada pertanyaan yg lebih berbobot?", atau "kamu itu bodoh dan miskin". Kalimat terakhir ini bener bener saya inget pernah diucapkan oleh guru SMA saya.
Beberapa waktu lalu saat saya ambil data penelitian, salah satu partisipan cerita kurang lebih begini: "waktu aku kelas 2 SD pernah ikut lomba matematika. Tapi dikomentarin sama guru yg jadi juri lomba kalo aku gak bisa matematika". Sampai di sini saja, guru tersebut sudah salah. Lebih salahnya lagi adalah, komentar negatif tersebut diucapkan di depan orang banyak. Bayangin, anak Kelas 2 SD dikomentarin negatif di depan orang banyak! Efeknya, anaknya nggak suka matematika setelahnya. Tapi, setelah pindah sekolah di USA, anak tersebut jadi suka matematika karena katanya, guru di sini ngajarin matematikanya sambil nari!".
Saya sedang tidak terlalu muji bangsa lain. Toh tiap negara punya sisi postif dan negatif masing masing kan. Maksud saya adalah kita ambil budaya yg baik. Menghargai pendapat/tindakan orang lain adalah hal yg sangat terpuji. Jangan sampai karena kita, khususnya guru, nggak terbiasa menghargai pendapat murid, jangan salahkan murid selalu diam kalau kita tanya, "ada pertanyaan atau tanggapan?"
Selamat hari guru

-Angga Hidayat

Comments

Popular posts from this blog

JANGAN TERBALIK

Jadi Malu

Jangan pernah merasa lebih pintar dari orang yang menyuapimu makan