JANGAN BEKERJA KARENA UANG

Dulu, sekitar tahun 2009-2012 saya pernah kerja dengan gaji 60 ribu rupiah. Sengaja saya tulis dengan angka kata "ribu" nya biar gak salah baca. 60 ribu rupiah. Ada 1 angka 6 dan 3 angka 0. Kadang dapat upah lebih, kadang malah dirapel . Tapi saya tidak terlalu peduli dengan jumlah upahnya. Pun jika dibayar telat atau malah jika tidak dibayar pun saya gak terlalu peduli. Niat saya bukan uang. Tapi mau share ilmu saja. Walau ilmu saya masih cetek

Di daerah saya, saya dianggap bisa bahasa Inggris. Lantas ada teman yang nawari gantikan kakaknya untuk ngajar di SMK. Ngajar bahasa Inggris. Ya saya terima saja. Daripada gak ada yg ngajar di sana. Kasihan juga siswa siswa di sana kalau ada kelas kosong. Kan lebih baik diajar sama saya yang notabene nya bahasa inggris nya pas pasan daripada kelas kosong. Saya terima lah tawaran itu. Jika ada guru pengganti lain yang lebih mahir, saya tinggal mundur. Nyatanya, saya malah terus ngajar di sana sampai sekitar 3 tahun.
Jika dulu saya tolak tawaran teman karena gajinya yang dianggap kurang alias bekerja karena uang, bisa jadi saya gak akan ada di sini di USA. Otak saya ini pas pas an banget. Dengan teman teman seangkatan, mereka jenius dan saya bahkan jauh di bawah mediocre. Tapi, saat kuliah saya malah selalu dapat beasiswa. Bahkan, setelah lulus kuliah, saya langsung dapat beasiswa S2.
Belum sempat diwisuda, saya sudah mulai kuliah S2. Proses pendaftaran beasiswa ini seperti dipermudah. Aslinya saya tidak yakin akan lulus tapi ternyata malah lulus. Teman yang sama-sama daftar dan berpeluang lebih besar diterima malah nggak lulus. Karena sudah mulai kuliah sebelum wisuda, jadinya saya gak ikut wisuda S1. Malas balik ke kota asal. Btw, saya lulus S1 3,5 tahun. Dipermudah dan diperlancar proses kuliahnya. Alhamdulillah
Lulus dari S2, saya kerja sambil ngajar di sekolah agak pedalaman di Lebak Banten. Ngajar di sekolah yang sudah banyak bangunan runtuhnya. Kelas yang masih beroperasi pun sudah gak layak. Seperti mau roboh, dan, maaf, kotor. Tapi saya gak peduli dengan kondisinya. Saya ngajar di sana. Gak dibayar. Murni sukarelawan. Pengen bisa bermanfaat walau kecil.
Juga saya mulai ngajar di rumah yatim piatu di Sawangan, Depok. Ngajar aja sendiri. Setelah beberapa lama mulai ada satu dua rekan yang mau bantu bantu nemani ngajar di rumah yatim piatu. Kami gantian ngajarnya tiap minggu. Setelah beberapa lama mulai tambah lagi rekan yang mau bantu ngajar di sana. Akhirnya mulai ada tim ber-15. Lantas kami rutin ngajar di sana sekitar 2 tahun.
Entah berhubungan atau nggak, tapi saat pendaftaran beasiswa ke Amerika, saya merasa dipermudah. Awalnya, saya perkirakan bahwa saya akan sekitar 5x daftar baru bisa lolos beasiswa Fulbright, tapi ternyata saya 1x apply langsung lulus beasiswa impian saya ini. Padahal pesaingannya itu orang orang jenius. Bahkan ada pendaftar yang lulusan Cambridge university, dan dipenuhi pendaftar dari banyak kampus bergengsi dunia lainnya.
Selain dapat beasiswa dari Fulbright program, Saya juga dapat beasiswa dari kampus. Dua donor beasiswa untuk program S3 ini. Kebanyakan lulus dari USA adalah selama 5 tahun. Malah banyak yang lebih. Asumsi jika saya lulus 5 tahun dari program doktor ini maka saya dapat beasiswa kampus+us government+TA/RA sekitar $259.200. Asumsi dolar sebesar 14.200 maka yang saya dapatkan dalam bentuk program doktoral ini adalah sebesar Rp 3,68 Milyar.

Ohio state university stadium
sumber: https://www.campusreel.org/colleges/ohio-state-university-main-campus

Maksud dari tulisan saya ini adalah berbagi lah walau kecil. Dianggap atau tidak dianggap ya jalan saja walau sendirian. Lakukan saja sendirian. Tidak perlu ada teman dulu baru mulai. Mulai saja , nanti kamu akan dipertemukan oleh orang orang yg akan bantu kamu. Yang terpenting adalah sharing lah secara rutin. Jangan terfokus pada uang. Hanya mau sharing dan berkegiatan kalau ada uang nya saja. Nggak ada uang, nggak mau sharing dan berbagi ilmu.
Juga, jangan pernah merasa
hebat
. Kalau pun kamu dapat sesuatu yang besar, bisa jadi itu bukan karena kamu yang bener bener
hebat
tapi karena doa orang yang pernah kamu bantu. Juga, pasti ada bagian dari doa orang tua dalam apa yg kamu raih. Jangan pernah merasa lebih
hebat
dari orang yang pernah ngasih kamu makan.
Ini memang cerita klise. Tentang memberi lalu mendapatkan timbal balik yang lebih besar. Sangat klise malah. Tapi selalu relevan dalam tiap kondisi. Dan bisa jadi pemecah masalah hidup. Contohnya, saya yang bahasa inggrisnya masih kacau balau tapi malah bisa keluar negeri. Juga ternyata walau orang tua gak lulus SD tapi malah dikasih kemudahan kuliah terus sampai S3.
Saya nulis ini karena mau lanjutin kebiasaan dulu di kegiatan KMO yg harus nulis rutin di facebook. Terima kasih banget inisiator kegiatan tsb membantu banget. Saya jadi berani nulis di medsos. Juga karena saya baru hadiri seminar digital math storytelling. Ya memang tulisan ini bukan tentang matematika, tapi ada storytelling dari cerita saya. Kalaupun ada yang beranggapan, kenapa amal diceritakan. Ntar jadi riya'. Ya gak apa juga dianggap riya'. Saya gak terlalu peduli dengan apa yang orang pikirkan. Cuma suka sharing, dan biar akun fb ini ada manfaatnya.

Oleh
Angga Hidayat

Comments

Popular posts from this blog

JANGAN TERBALIK

Jangan pernah merasa lebih pintar dari orang yang menyuapimu makan

ETIKA