GENERASI PERTAMA

Saat nulis esai untuk syarat studi lanjut ke Amerika Serikat, saya tidak mencantumkan sedikit pun perihal bahwa saya termasuk generasi pertama di keluarga saya yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Ibu-bapak saya tidak ada yang lulus Sekolah Dasar. Namum, saya tekankan walau kedua orang tua saya tidak punya ijazah Sekolah dasar, saya tetap bangga pada mereka dan merasa sangat bersyukur bahwa mereka bisa membuat saya kuliah hingga S3 bahkan sampai USA.
Kita skip perihal cerita orang tua saya, dan bagaimana mereka bisa membuat saya terus sekolah hingga pada level pendidikan formal tertinggi. Hal ini akan saya ceritakan pada kesempatan berikutnya.
Saya baru tahu setelah diterima beasiswa Fulbright bahwa mahasiswa mahasiswa generasi pertama (yang bisa kuliah) akan mendapat poin plus. Memperbesar peluang diterima di Universitas Amerika. Ini karena pihak admisi kampus USA sadar betul bahwa generasi pertama UMUMNYA belajar dan bekerja lebih keras daripada anak-anak yang orang tuanya juga pernah berkuliah.

Ohio State University
sumber: https://www.tripadvisor.com/ShowUserReviews-g50226-d519181-r130294939-Ohio_State_University-Columbus_Ohio.html

UMUMNYA, anak-anak yang orang tuanya tidak pernah kuliah berasal dari keluarga yang secara finansial pas pas an. Anak-anak ini lantas kuliah sambil bekerja agar bisa membiayai kuliahnya dan tetap kirim uang untuk orang tuanya di daerah. Pola seperti ini banyak saya temui pada mahasiswa mahasiswa yang saya ajar.
Kadang mereka datang terlambat karena baru pulang kerja di daerah Kebayoran, salah satu contohnya, jam 5 sore dan harus melewati kemacetan pondok indah, pasar jumat, ciputat, hingga sampai Pamulang sudah jam 7 malam lewat. Saya paham rasa capek mereka menghadapi macet setelah pulang kerja dan harus lanjut kuliah. Buat saya tidak apa sering telat. Yang penting dikomunikasikan. Saya bangga bahkan dengan kesibukan seperti itu mereka tetap melanjutkan kuliah karena sy pernah mengalami hal yang sama.
Saat S1 saya sering izin pulang lebih awal pada dosen dosen yang mengampu matakuliah di jam malam. Ini karena jarak antara rumah dengan kampus adalah 62,4km dan saya menggunakan kereta PP setiap hari. Kereta pada tahun 2008-2012 tidak sebaik sistem KRL saat ini. Juga, kereta terakhir ke rumah sangat mepet dengan jam terakhir kuliah. Untungnya, dosen dosen saya ini sangat baik dan pengertian.
Jujur, saya sudah lupa perihal bagaimana ikatan kimia sukrosa atau implementasi hukum Newton pada tekanan pipa, tapi saya tidak akan lupa kepeduliah dosen dosen saya tersebut agar saya tidak ketinggalan kereta terakhir. Juga, saya tidak lupa pada dosen pembimbing yang rela nunggu saya bimbingan padahal beliau juga sedang buru buru. Apalagi dengan dosen yang pernah ngasih saya uang karena beliau tahu saya belum makan dan hampir kehabisan ongkos. Jumlah uangnya memang tidak besar, tapi CARING yang beliau tunjukan sangat besar dan sangat membekas. Saya bukan hanya sekedar tidak akan lupa, tapi kepedulian mereka ini yang banyak mempengaruhi saya sampai hari ini.
Maksud dari tulisan ini adalah walaupun saya punya keinginan sangat kuat untuk lanjut studi hingga S3 dan keluar negeri, tapi jika Allah tidak mempertemukan saya dengan orang-orang baik maka tentu ceritanya akan berbeda. Belum tentu saya ada di USA, dan belum tentu saya bisa lulus S1.
Jika boleh kasih sedikit saran, bagi dosen, mengajarkan perihal CURIOSITY, CRITICAL THINKING, CREATIVITY, dan C lainya pada mahasiswa adalah hal yang penting, tapi mencontohkan CARING adalah lebih penting lagi. Hal ini walau remeh, dan mungkin sering tidak disadari, akan mempengaruhi masa depan mahasiswa-mahasiswa yang diajar.
Juga, bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa S1 generasi pertama, kalian sudah banyak melalui hal luar biasa. Selesaikan kuliah, dan buat orang tuamu bangga. Jangan hanya sekedar kuliah-pulang, usahakan perbanyak organisasi jika kamu tidak bekerja. Jika kamu bekerja, usakan juga sering seringlah ikut kegiatan sosial atau komunitas di akhir pekan. Saya tahu ini berat, tapi ingat IPK hanya akan mengantarkanmu ke wawancara kerja. Diterima atau tidaknya kamu kerja (atau bahkan menciptakan lapangan kerja) jauh lebih ditentukan oleh skills dan kepribadian.

ditulis oleh:
Angga Hidayat

Comments

Popular posts from this blog

JANGAN TERBALIK

Jangan pernah merasa lebih pintar dari orang yang menyuapimu makan

ETIKA