Ringkasan Artikel "Learning discourse of race and mathematics in classroom interaction" oleh Shah, Niral & Leonardo, Zeus

Pada artikel ini, penulis menggunakan poststructural theory. Lebih spesifik, "poststructural theory understands the local in terms of global historical processes and forces, linking micro-level phenomena to macro-systems of power" (Lewis & Moje dalam Shah & Leonardo, 2016, p. 53). 

Knowledge dipahami dalam teori ini adalah dengan interaksi sosial. Hal ini dijelaskan oleh Shah & Leonardo (2016, p. 53) dengan menyatakan bahwa "Of particular interest are the features and dynamics of the local settings in which social interactions take place, and how mediation by cultural tools and signs produces transformations in knowledge and in the self". Hubungan seseorang dengan orang lain mempengaruhi bagaimana orang tersebut mengolah informasi yang didapatkannya. Karena pengaruh orang lain ini lah jika sekelompok besar memiliki pendapat tertentu, maka pendapat tersebut dikonstruksi menjadi "kebenaran" kolektif yang berlaku pada suatu masyarakat atau komunitas. Hal ini dinyatakan oleh Shah & Leonardo (2016, p. 52) saat mengutip pendapat Foucault yakni "these knowledges get taken up as "truth" and become part of the collective "common sense". 

Learning understood in this theory adalah dengan melakukan pengamatan pada orang lain untuk kemudian diterjemahkan oleh siswa bersangkutann. Hal ini dikemukakan oleh Shah & Leonardo (2016, p. 61) yakni "these discourses prefi gure the learning environment, specifi cally in terms of how students can interpret what they observe independent of students’ actual performance on the test".

Mengajar dipahami dari teori ini adalah bagaimana guru berinteraksi dengan siswa. Hal ini penting karena guru memberikan suatu sinyal pada siswa sehingga siswa merasa dapat atau tidak dapat melakukan sesuatu. Secara gamblang, Shah & Leonardo (2016, p. 54) menyatakannya dengan kalimat berikut "They can affect students’ participation in learning environments through interactions with teachers who position them as capable or incapable of performing cognitive tasks expected of them".

Karena belajar diperoleh dengan melakukan interaksi dengan orang lain, maka data didapatkan cara melakukan wawancara, observasi lapangan, dan fieldnotes. Data juga sebaiknya diambil di sekolah yang memiliki beragam ras. Penelitian yang dilakukan oleh Shah & Leonardo (2016, p. 59) dilakukan di high school located in Northern California dengan sebaran data siswa adalah 8% Asian, 25% Black, 48% Latin@, 3% Polynesian, 14% White, and 2% Mixed or Other.

diversity
sumber: https://tcf.org/content/report/how-racially-diverse-schools-and-classrooms-can-benefit-all-students/


Referensi:

Shah, N., & Leonardo, Z. (2016). Learning discourses of race and mathematics in classroom interaction. Power and privilege in the learning sciences: Critical and sociocultural theories of learning. New York, NY: Routledge.


Comments

Popular posts from this blog

JANGAN TERBALIK

GERIMIS, KESEHATAN, DAN NETWORKING

TERJEBAK OLEH KEJAYAAN MASA LAMPAU