Ringkasan Artikel "A Framework for understanding whiteness in mathematics education" Oleh Battey & Leyva

Awalnya saya beranggapan bahwa artikel ini hanya menggunakan Critical Race Theory (CRT) karena banyak menyebut ras. Contohnya di halaman 51, Battey & Leyva menulis "thus, whiteness is a foundational concept for racism. Whiteness creates an ideal race, with which to devalue and subsequently oppress other racial groups". Selain itu, Battey & Leyva mengutip perntayaan Haney-Lopez (2006) pada halaman 53 bahwa ras itu mengenai 2 hal saja yakni hitam dan putih, kelompok lain seperti Yahudi, penduduk asli Amerika, Asia, dan Latin lebihh sulit diklasifikasikan dalam hierarki ras di Amerika Serikat. Kalimat asli dari kutipan Haney-Lopez (2006) adalah sebagai berikut, "While many in the United States conceptualize race as a Black/White binary, groups such as Jews, Native Americans, Asians, and Latin's have proved more difficult to classify in the racial hierarchy within the U.S. context". 

Dan Battey
sumber: https://gse.rutgers.edu/faculty/dan-battey/

Namun, di halaman 60 Battey & Leyva mengutip pendapat Acker (2000) yang menyatakan bahwa gender dapat mempengaruhi ras melalui proses dan aksi sehingga melanjutkan ketidakadilan pada masyarakat yang lebih luas. Redaksi kalimat yang dituangkan oleh Battey & Leyva adalah "Acker (2000) used work on gender to examine how organizational logic im- pacts intersections with race and class through processes, actions, and meanings, maintaining inequities within broader society". Battey & Leyva menguatkan teori feminis dengan hasil temuan Acker (1990) dan Moore (2008) yaitu "The labor level draws on both Acker’s and Moore’s work as well. Acker (1990) discussed how gendered forms of interaction place more of an emotional burden on women that they must then bear in the workplace. In extending this work, Moore (2008) connected this emotional labor to the burden that African Americans bear due to whiteness. This emotional labor comes in the form of regulating dissatisfaction, frustration, and anger due to being subjected to deficit views, racial slights, and forced compliance". Dengan demikian, pada artikel ini Battey & Leyva juga menggunakan teori feminis sebagai tambahan CRT.

Lebih jelas lagi, artikel ini menjelaskan perihal whiteness study. Hal ini nampak pada judul artikel yang menyebutkan "understanding whiteness". Selain itu, ada 178 kata whiteness yang digunakan penulis dalam artikel ini. Pada halaman 51, Battey & Leyva mengutip pernyataan Kivel (2011) yaitu "racism is based on the concept of whiteness - a powerful fiction enforced by power and violance". Whiteness study ini juga penting di bahas dalam konsep pendidikan matematika karena mempengaruhi kehidupan siswa, baik di dalam maupun di luar kelas. Seringkali siswa Afrika-Amerika dianggap kurang mumpuni dalam memahami matematika dibandingkan dengan siswa kulit putih. Redaksi kalimat yang digunakan dalam mengungkapkan diskriminasi siswa Afrika-Amerika dalam kelas matematika adalah pada halaman 53 yaitu "these frames serve to position African American students as deficient and as needing to "live up," so to speak, to white norms of behavior and achievement". 

white face mask
sumber: https://guides.library.duq.edu/critical-whiteness-studies

Seharusnya siswa mendapatkan pengetahuan tanpa dibedakan berdasarkan ras, seperti yang dinyatakan oleh Martin (2013), yaitu "...the assertion of knowledge production as neutral and impartial, unconnected to power relations". Namun, kenyataannya siswa Afrika-Amerika pernah mendapatkan ketidakadilan dalam kegiatan belajar mengajar. Pengetahuan saat itu didapatkan berdasarkan ras. Siswa kulit putih diuntungkan karena white supremacy dengan dinyatakan oleh Battey & Leyva pada halaman 50 yakni "while white privilege refers to benefits from racism in favor of whites, white supremacy is the systemic maintenance of the dominant position that produces white privilege". 

Kegiatan belajar mengajar seharusnya tidak membedakan ras. Namun, kenyataannya pada setiap ranah, siswa kulit hitam dianggap kurang mumpuni dalam belajar matematika. Pada halaman 67 Battey & Leyva mengutip pernyataan Ladson-Billings (1997) dan Lubienski (2002), "The literature on African American and Latin students is replete with classroom settings that only ask students to replicate procedures, follow worksheets page by page, and that lack the opportunity to engage in cognitive depth". Siswa Afrika-Amerika hanya diberi tugas sederhana. Hanya diberi perintah mereplikasi sesuai prosedur, tanpa melibatkan ranah kognitif yang mendalam. Rendahnya kemampuan kognitif siswa juga dipengaruhi oleh ranah emosi siswa. Pada halaman 69 Battey & Leyva mengungkapkan bahwa "this emotional labor is connected to slowing students' cognitive mathematical engagement as well". Diskriminasi yang dialami siswa tiap hari membuat perasaan negatif seperti kesedihan, frustasi dan kemarahan meningkat. Dalam mengajar, baik dalam kelas matematika dan matapelajaran lain, harusnya tidak membedakan ras. Siswa baik putih, Afrika-Amerika, Latin, Asia berhak mendapatkan kesetaraan yang sama dalam pendidikan. 

Salah satu tujuan dari artikel ini adalah untuk menyediakan kerangka dalam memahami white supremacy khususnya dalam pendidikan matematika melalui ideologi, ruang fisik, interaksi, dan perlawanan siswa (Battey & Leyva, 2016, p. 76). Data diperoleh berasal dari artikel dan buku terdahulu untuk kemudian dianalisis oleh penulis. Dengan kata lain, penulis menggunakan studi literatur. Kesimpulan dari literature rivew ini adalah "there is a danger in re-centering whiteness". Siswa harus diperlakukan adil dalam kelas matematika, tanpa membedakan ras nya.

- Angga Hidayat

Comments

Popular posts from this blog

JANGAN TERBALIK

Jangan pernah merasa lebih pintar dari orang yang menyuapimu makan

ETIKA