Etnografi itu apa?

Untuk mempermudah memahami sesuatu yang masih dianggap abstrak atau sulit dipahami, akan lebih mudah menggunakan analogi. Di dalam artikelnya, Blommaer (2009) membuat suatu analogi untuk etnografi: Umumnya, saat kita menonton pertandingan bola, mata kita tertuju pada di mana bola tersebut sedang diperebutkan. Otomatis, mata kita pun hanya melihat para pemain yang berada di sekitar bola tersebut. Iya kan? Namun, kenyataan di lapangan, walaupun tidak disorot kamera, para pemain yang berada di luar jangkauan kamera pun melakukan aktivitas penting, baik yang tergambar dalam bentuk gerakan lari, ekspresi wajah, bahkan raut muka yang memikirkan strategi. Gerakan pemain yang sedang tidak tampak pada kamera juga penting demi keberhasilan tim masing-masing. Tidak hanya pemain, kita pun sering luput dari sang pelatih yang mengarahkan para pemainnya dari sisi lapangan. Jelas, berbagai aktivitas di lapangan bola ini tidaklah linear. Artinya tidak mudah ditebak arah permainan dan aktivitas para pemainnya, tapi bersifat dinamis yang bisa saja terjadi perubahan mendadakan pada keunggulan suatu tim. 

Begini lah yang juga terjadi pada etnografi. Etnografi bertujuan untuk menggambarkan aktivitas kompleks secara menyeluruh. Bukan malah menyederhanakan kompleksitas yang dimilikinya. Ini lah menjadi alasan mengapa butuh waktu yang lama dalam menggunakan etnografi (Blommaer, 2019). 

sumber: dokumentasi pribadi, foto diambil pada 1 September 2021 di 18th Avenue Library, The Ohio State University

Etnografi, menurut Blommaert & Jie (2010), sering dianggap sebagai sebuah metode pengumpulan data. Dalam antropologi, etnografi sering juga disamakan dengan sinonim. Lebih lanjut, dalam bidang bahasa, sering kali etnografi disamakan dengan teknik dan rangkaian preposisi. Namum, etnografi sejatinya adalah sebuah filsafat. Juga, hal penting lainnya adalah karakteristik utama dari etnografi yakni keterbukaan, yang mudah dapat dikoreksi sejalan dengan diadakannya penelitian itu sendiri (Hymes, 1982).

Etnografi sejatinya adalah perihal pola-pola yang terbentuk pada suatu masyarakat tertentu. Contoh yang dituliskan oleh Hymes (1982) adalah pada masyarakat di Philadelphia. Kita tahu bahwa Philadelphia memiliki korannya sendiri, begitu pun ada stasiun tv, perpustakaan, stasiun radio, majalah, bahkan ada komediannya tersendiri. Etnografi ini bisa menjelaskan hubungan antara kesemua hal-hal yang ada di dalam kota tersebut. 

Selanjutnya, etnografi dijelaskan dengan mengggunakan narasi (Hymes, 1982). Narasi ini juga sangat penting dalam etnografi. Contoh penggunaan narasi adalah pada kegemaran masyarakat Bali dalam sambung ayam. Hymes (1982) menjelaskan bahwa film bisa jadi dapat membantu menjelaskan fenomena masyarakat Bali tersebut, tetapi dengan menggunakan narasi dapat menujukan lebih rinci perihal fenomena tersebut.

Selain fenomena sambung ayam di Bali, Ortner (2016) juga memberikan contoh lain dalam penelitian etnografi, yakni penelitian yang dilakukan oleh Mike Davis (1992) yang menjelaskan perumahan di California yang secara arsitektur membuat rumah menjadi mirip penjara.



Comments

Popular posts from this blog

JANGAN TERBALIK

Jangan pernah merasa lebih pintar dari orang yang menyuapimu makan

ETIKA