Ringkasan Artikel: Performativity in the Bilingual Classroom: The Plight of English Learners in the Current Reform Context; Pacheco, Mariana; University of Wisconsin - Madison

Artikel ini sangat menarik bagi saya karena saya sendiri, yang baru satu bulan tinggal di USA, mengalami kesulitan belajar dalam bahasa Inggris. Untungnya, teman-teman di sini sangat mendukung dan tidak menghina kemampuan bahasa Inggris saya. Umumnya, mereka berkomentar bahwa saya akan bisa bahasa Inggris dengan sendirinya karena interaksi dengan teman-teman sekelas.

Kembali pada artikel yang ditulis oleh akademisi dari University of Wisconsin - Madison ini. Artikel ini menggunakan beberapa teori, tetapi teori yang paling terasa penggunaannya adalah teori dari Brefenbrenner. Brefenbrenner merupakan seorang ahli psikologi yang mencetuskan teori ekologi, yaitu siswa belajar dengan mendapat dukungan dari lingkungannya. Hal ini bisa dilihat dari kalimat yang ditulis oleh Pacheco (2010, p.75) yaitu "I argue that in the absence of assisted supportive guidance to facilitate success as defined in the current accountability framework, local interpretations of outcomes-based policies have had parallel effects on the school lives of ELs and their teachers". Pada kalimat ini, Pacheco berpendapat bahwa kebijakan yang tepat akan mempengaruhi sekolah dan guru. Padahal menurut teori ekologi yang dikemukakan oleh Brefenbrenner, ekosistem, termasuk di dalamnya sekolah dan guru, mempengaruhi keberhasilan siswa dalam memahami pelajaran. 

Brefenbrenner
Source: https://www.timetoast.com/timelines/urie-bronfenbrenner

Teori yang juga ditekankan pada artikel ini adalah teori sosiokultural yang dikemukakan oleh Vygotsky. Hal ini dapat dilihat pada penjelasan Pacheco (2010, p.76) yang secara jelas menyebut nama Vygotsky yaitu "Neo-Vygotskian researchers have employed these conceptual and methodological tools to account for the mediating function of ideologies in non dominant students' schooling experiences". Hal ini nampak jelas bahwa siswa perlu melakukan interaksi dengan orang lain agar dapat memahami materi ajar. Selain itu, pada halaman-halaman terakhir artikel, Pancheco menjelaskan bahwa salah satu guru yaitu Mr. Saunders meminta murid agar mendapatkan tanda tangan orang tua sebagai tanda bahwa murid sudah mengerjakan tugas di rumah. 

Teori yang dikemukakan oleh Bandura juga digunakan oleh Pancheco (2010, p.86) yaitu Mr. Saunders menggunakan motivasi eksternal berupa menghargai ataupun menghukum siswa. Dalam teori sosial kognitif yang dikemukakan oleh Bandura, siswa tidak perlu mengalami sendiri hukuman atau pujian tetapi cukup melihat orang lain mendapatkan hukuman atau pujian tersebut maka siswa akan secara otomatis akan menggunakannya, baik secara langsung atau disimpan untuk kemudian hari. 

Materi ajar dipahami oleh siswa dengan berinteraksi dengan lingkungan sekitar seperti guru dan komunitas belajar di daerah dimana murid tinggal. Secara spesifik, Mr. Saunders meminta agar siswa minta dibelikan kamus pada orang tua masing-masing. Selain itu, Mr. Saunders memberi penguatan berupa pujian dan hukuman agar murid dapat mengikuti tindakan baik dan menjauhi pelanggaran di ruang kelas. 

Cara mengajar Mr. Saunders adalah dengan memberi pekerjaan rumah pada siswa berupa a reading, a math worksheet, and a spelling assignment. Pekerjaan ini umumnya membutuhkan waktu 20 menit untuk diselesaikan oleh siswa. Setelahnya siswa diminta untuk mendapatkan tanda tangan orang tua untuk memverifikasi bahwa orang tua sudah mereview pekerjaan rumah mereka (Pacheco, 2010, p.84). Cara lain yang digunakan oleh Mr. Saunders adalah dengan memberi pujian pada siswa yang berhasil mengerjakan tugas tepat waktu (Pacheco, 2010, p.85). Pemberian sanksi pun dilakukan oleh Mr. Saunders saat memberi hukuman pada salah satu siswa yaitu Jacobo (Pacheco, 2010, p.86).

Metode yang digunakan oleh Pacheco adalah metode kualitatif dengan menggunakan instrumen berupa wawancara dan observasi di sekolah. Hal ini sesuai dengan pertanyaan penelitian yaitu perihal kebijakan yang dibuat oleh pemerintah perihal kelas bilingual yang bahkan bermasalah di a "high-achieving" school. Pacheco hanya mewawancarai dan mengobservasi satu guru yaitu Mr. Saunders (bukan nama sebenarnya).


Referensi

Pacheco, M. (2010). Performativity in the bilingual classroom: The plight of English learners in the current reform context. Anthropology & Education Quarterly41(1), 75-93.

Comments

Popular posts from this blog

JANGAN TERBALIK

Jangan pernah merasa lebih pintar dari orang yang menyuapimu makan

ETIKA