Posts

Rp 5ribu Jadi Rp 150juta

  Di atas meja kerja, beberapa bulan lalu, tergeletak dua buah iPad. Berhari-hari masih tergeletak di situ. Nggak ada yang ngakuin. Nggak ada yang ngambil. Setelah sekitar 2 minggu, saya tanya ke dospem (dosen pembimbing). Mungkin beliau yang taruh iPad itu di situ.  Beliau jawab, “Oh itu iPad dari projek lama profesor lain. Kalau kamu mau ambil, ambil aja. Nggak akan ada yang nyariin iPad itu”.  Wow, iPad tergeletak gitu aja tanpa ada yang ngakuin! Walaupun itu versi iPad lama tapi tetap aja itu iPad dan masih berfungsi.  Saya sebenernya mau ngambil tapi ya buat apa. Saya sudah dapat fasilitas PAKET iPad Pro yang harganya tidak kurang dari Rp 20juta (versi iBox). Saya di sini spesifik nyebut harga, bukan buat mau pamer, tapi lebih kepada perbandingan saya yang dulu.  Saat masuk awal kuliah S2. Beasiswa belum, dan tidak akan, cair selama sekian bulan pertama so di awal awal tinggal di Surabaya saya beli nasi pecel seharga Rp 5ribu untuk dimakan 3 kali. 1 bungkus dibeli pagi untuk makan

Jalan Kaki

Image
Minggu ini lagi baca buku berjudul bisnis "After Steve : How Apple Became A Trillion-Dollar Company And Lost Its Soul". Buku ini ditulis berdasarkan riset selama 5 tahun. Di dalam buku ini ditulis kalau Jobs sering ngajak jalan kaki para pimpinan lain di Apple untuk ngobrolin ide dan bangun kedekatan dg mereka. Saya langsung setuju sama kebiasaan bos Apple ini. Misalnya, dg Marcin (orang pada foto ini), saya hanya ketemu 3 hari di Washington DC. Di suatu sore kami pernah jalan-jalan cuma berdua krn ketinggalan kelompok lain. Kami ngelilingi gedung-gedung di Washington jalan kaki sambil ngobrol banyak hal, spt bisnis, pernikahan, perbedaaan persepsi masyarakat antar benua. Deep talk yang cuma sekitar 1 jam bisa bikin kami trus jalin komunikasi sampai sekarang. Dulu, pas masih ngajar di SMA, saya juga suka ngajak murid-murid untuk jalan kaki. Kami ngobrol, atau lebih seringnya saya cuma mendengarkan cerita-cerita mereka. Efeknya pun sama: gak sedikit murid yg masih kontak-konta

BIAYA KULIAH DI USA

Image
  BIAYA KULIAH DI USA Bulan ini dapat tagihan biaya kuliah untuk fall 2022 sebesar $21.792. Lantas, coba ngecek biaya kuliah summer 2022 ini, ternyata $14.623. Sebelumnya, spring 2022 biaya kuliahnya itu $21.060,40. So, selama setahun biaya kuliah di USA adalah $57.475,40. Jika asumsi nilai tukar rupiah adalah $1=Rp15.000, maka satu tahun BIAYA KULIAH di USA adalah Rp 826.131.000. Hitungan ini baru untuk biaya kuliah saja. Belum termasuk biaya hidup yang juga tinggi. Standar biaya minimum hidup di Columbus yang ditetapkan oleh Ohio State University, menurut info pembimbing saya, adalah $1.700/ bulan. Dikali 12, maka setahun perlu $20.400 yang setara Rp306 juta. Maka, gabungan biaya kuliah dan biaya hidup setahun perlu Rp1.132.131.000. Lebih dari satu Milyar per tahun! Untuk mahasiswa S3 yang lulus 5 tahun maka perlu sekitar Rp5,6Milyar sampai lulus. Kuliah S3 di USA itu beda dg sistem negara persemakmuran yang cenderung bisa dipercepat jadi 3 tahun. Di USA, banyak yang lulus 4-5 tahun.

Amerika katanya

Image
Amerika yang katanya terkenal individualistik, tapi ternyata mereka punya program sosial yang keren. Contohnya, saat ini saya lagi nunggu istri pelatihan bahasa Inggris di salah satu perpustaakaan di dekat apartemen. Program ini, sepertinya, tujuannya untuk membantu para imigran bisa lebih lancar berkomunikasi dalam bahasa inggris. Sebelum pelatihan, istri saya, dan para peserta lain, ambil placement test di salah satu lembaga literasi milik pemerintah. Lembaga literasi tapi punya interior desain seperti perusahaan startup. Juga, petugasnya ramah-ramah banget. Kalau program ini berbayar, entah berapa puluh juta uang yang harus dikeluarkan untuk segala fasilitas dan keramahan para pegawai negeri dan volunteernya. Contoh lain dari kerahaman Amerika adalah para pengungsi dari negara-negara konflik, seperti Palestina, Somalia, Myanmar, dll, diterima di negeri ini dengan pelayanan yang ramah. Anak-anak mereka dapat fasilitas sekolah gratis. Orang tuanya pun dapat pelatihan berbahasa, baik d

PERSPEKTIF SMS DOSEN

Image
Sekitar seminggu yang lalu baca postingan di twitter perihal mahasiswa yang ngechat dosen di hari libur (seperti pada pict 2, dan screenshot ini milik orang lain). Sebagai seorang yang pernah jadi mahasiwa dan dosen, begini pengalaman dan perspektif saya perihal etika ngechat dosen. Setiap kali mau ngechat dosen, saat jadi mahasiswa, saya perlu mikir dulu, "duh ini chat udah sopan belum ya". Lalu baca kemudian revisi. Mau ngirim juga deg-degan. Perlu waktu belasan menit bahkan beberapa jam sebelum klik kirim. Ngirim chat di luar jam kantor? Seinget saya, saya gak pernah lakuin itu. Sama seperti "karyawan" lainnya, dichat di luar jam kerja untuk urusan kantor, apalagi hari libur, adalah sesuatu yang menyebalkan kan? Tapi, saat saya jadi dosen, wah saya sering banget dichat tengah malam. "Saya hendak minta ttd bapak jam 10 malam apa boleh pak?" "Saya sampai rumah jam 8 malam. Apa bisa saya bimbingan online jam 9 malam pak?" "Apa hari minggu in

Pengalihan Isu

Image
Tahapan paling challenging dari menjadi mahasiswa doktoral, sepertinya, adalah bagian nulis disertasi. Mahasiswa tingkat akhir, bahkan termasuk mahasiswa S1 dan S2, kebanyakan akan cenderung tidak nyaman jika ditanya progres disertasinya. sumber pict: https://www.pinterest.com/pin/825777281687954476/ Jangankan tentang disertasi, nulis artikel untuk publikasi saja pun kadang jadi menyebalkan jika sudah diikat dengan target.  Ada teman yang cerita kalau dia lebih suka masak-masak kalau lagi pusing sama tugas publikasi. Saya juga tipe yang suka "kabur" kalau lagi mentok nulis artikel. Ternyata, di summer ini, bukannya jadi agak santai tapi malah ada tugas nulis 4 artikel untuk dipublikasikan. Duh, karena waktunya mepet semua, saya jadi suka pusing sendiri. Akhirnyaa, mentok mulu untuk lanjut nulis. Sebagai bentuk pengalihan isu dari mandeknya otak, saya lebih milih nulis apa pun yg diluar artikel ilmiah di medsos. Ya, tulisan-tulisaan saya di medsos ini sebenernya adalah bentuk

Perjalanan

Image
Pas lagi naik bus, denger salah satu siswa internasional bilang "fu*k" hanya karena semua bangku bus penuh. Emang itu pertama kali saya ngerasain bus apartemen ke kampus penuh. Umumnya, selalu ada bangku kosong karena memang manajemen apartemen punya beberapa bus untuk ke kampus. Sebenernya, jarak apartemen ke kampus itu deket banget. Naik bus cuma butuh 10-15 menit aja. "kenapa pula mahasiswa ini misuh-misuh (mengumpat) hanya karena berdiri 10 menit di bus?" Mungkin perbedaan budaya dan latar belakang keluarga. Saya jadi ngerasa bersyukur karena pernah tinggal di kab tangerang dan kuliah di jakarta. Hampir tiap hari PP kuliah bisa makan waktu 5-6 jam. Naik kereta barengan sama kambing dan ayam. Literally, saya sering banget umpek-umpekan berdiri cuma satu kaki plus disampingnya ada kambing, nyium bau ketek di sepanjang gerbong, plus berusaha biar gak kecopetan. Dulu, copet kereta itu banyak banget. Saya sangat apresiasi pemerintah karena berhasil ngerubah kereta ja