Posts

PULANG

Image
Saya nyoba nyari-nyari alasan untuk nolak tawaran ke Indonesia. Lantas, dospem nanya, "kenapa nggak mau ke Indnesia?" "Saya butuh dana penelitian untuk summer tahun depan. Bukan summer ini" Saya nyari alasan lain. Padahal alasan utamanya karena saya khawatir naik pesawat sendirian Dospem saya jawab, "Oh tenang aja. Tahun ini saya punya dana untuk kamu penelitian di Indonesia. Tahun depan saya juga masih punya dana untuk kamu. Begitu pula untuk tahun depannya lagi, saya masih ada dana untuk kamu pulang ke Indonesia". Dengar jawaban itu saya jadi wow saya bisa pulang ke Indonesia tiap tahun dengan budget dari Profesor pembimbing. PP Indonesia-USA itu tiket nya itu kisaran 30juta. Wah saya bisa berhemat 30 juta/ tahun. Saya tinggal nabung tiket untuk istri saja. Ternyata, Allah ngasih saya rezeki lain berupa pendanaan ke 2 negara bagian berbeda so saya punya kesempatan "latihan" naik pesawat dan akhirnya gak ngerasa khawatir sama sekali saat kemarin

GAK KEPIKIRAN

Image
Kurang dari 1 bulan terakhir, dapat kesempatan naik pesawat ke tiga tempat berbeda dengan pendanaan yang berbeda: PP Ohio-California, Ohio-Washington DC, USA-Indonesia. Lucunya (atau beruntungnya?), naik pesawat gratis ini saya rasakan saat saya jadi mahasiswa. Bukan saat lagi kerja. Mungkin akan terdengar wajar jika terbang saat kerja karena perusahaan mengutus untuk dinas ke tempat-tempat berbeda. Juga, perjalanan pertama saya naik pesawat setahun lalu juga gratis. Dapat pendanaan dari pemerintah Amerika Serikat. Dulu, saat milih jurusan pendidikan, saya nggak pernah ekspek akan dapat gaji tinggi, so gak pernah berharap untuk bisa jalan jalan naik pesawat terbang. Kita tahukan kebanyakan guru, apalagi guru di daerah terpencil, cuma punya gaji ratusan ribu, atau malah puluhan ribu per bulan? saya pernah loh ngerasain gaji cuma puluhan ribu aja sebulan. Juga, saya gak pernah iri sama temen-temen yang ngajar di kampus-kampus elit dan mereka tetap terima gaji tinggi, walaupun mereka seda

ORPHAN TO HARVARD

Image
Pernah nonton film "Homeless to Harvard"? Film dari kisah nyata ini sunggu rekomended. Saya suka banget. Ternyata, sekitar seminggu yang lalu saat ikut program enrichment dari Fulbright, saya ketemu sama salah satu penerima beasiswa Fulbright di Harvard University dengan kisah hidup mirip homeless to Harvard. Doi ditinggal meninggal ibu bapaknya dari usia kecil. Lantas, harus ngurusin adik-adiknya yang kecil. Hebatnya, dengan kondisi yang sangat challenging tersebut, doi dapat beasiswa Fulbright ke Harvard. Sayangnya, saya denger cerita doi di hari terakhir program enrichment. Nggak sempet ngulik lebih lanjut pengalaman hidup luar biasanya itu. Selain jenius, doi juga luar biasa baik. Awal bisa denger cerita hidupnya karena doi ngeliat saya gemeteran. "Are you okay?" "Saya kedinginan" "Kamu bisa pakai jas saya" "No, I'm fine" "Pakai aja" "No, it's okey. I'm good" Lantas, doi langsung ngelepas jas nya lalu

Why is it RELATIVELY easiER to get an A in the US THAN in Indonesia?

Image
Pernah baca tulisan Prof Rhenald Kasali tentang pengalaman beliau yang sangat kesulitan dapat nilai bagus pas kuliah di Indonesia, tapi malah bergemilangan nilai A saat kuliah di US? Saat ini saya mengalami hal yang sama dg beliau. Saya pernah dapat nilai C. Juga, paper saya pernah dibanting gitu aja dan dianggap "sampah" oleh salah satu dosen saat kuliah dulu. IPK S2 saya pun mepet di bawah garis kemiskinan Tp, saat kuliah di sini, semester pertama dan kedua saya dapat IPK 4.0 Sebenernya, menurut saya proses pembelajaran di US lebih menantang drpd dulu saya kuliah di Indonesia. Saya buka laptop dari subuh sampe tengah malam. Hanya saja, jika saya merasa kesulitan, saya tinggal email atau sms profesor untuk minta ketemuan dan penjelasan lebih lanjut. Hebatnya, profesor di sini sangat responsif. Umumnya, standar mereka akan balas pesan kita maksimal 24 jam, tp sering kali mereka balas email cuma hitungan menit dan langsung ngasih jadwal untuk ketemuan. Duh, saya jadi malu dulu

NGERASA (SOK) PENTING

Image
Orang-orang yang foto sama saya ini, nggak sedikit yang punya perusahaan sendiri. Nggak sedikit juga yang keliling ke berbagai negara, bahkan ada yang tinggal "nomaden" dari satu negara ke negara lain ngurus bisnisnya sambil liburan. Fulbright Enrichment Program di Washington DC Nggak sedikit juga yang jadi orang penting di institusi negara asalnya. Nggak sedikit juga punya gaji tinggi, bahkan untuk ukuran USA, di negara asalnya. Tapi luar biasanya, saat ngobrol mereka nggak memandang rendah lawan bicaranya. Saya yang speaking inggrisnya masih struggle begini, nggak pernah mereka sela. Mereka selalu nunggu saya selesai ngomong walau saya sering lama milih kata dan nyusun grammar (itu pun juga masih sering salah). Kadang kan ada temen kita yang kalo kita lagi diskusi, kita nya belum selesai ngomong tapi temen kita itu main potong aja. Mereka pun menghadapkan mukanya ke arah saya kalau saya sedang ngomong. Kadang kan kita punya teman yang kalau kita lagi ngobrol, malah matanya

ULTRA RICH

Image
Beberapa malam yang lalu, teman yang berasal dari salah satu negara ultra rich bilang kalau doi nggak pernah naik bus dan nggak ngerti sama sekali cara kerja naik bus itu bagaimana.  Saat saya mendengarkan ya menurut saya wajar saja karena doi berasal dari negara yang banyak penduduk di negaranya pakai super car.  Saat jalan-jalan ke luar negeri, doi juga nggak nyobain bus negara setempat. Wajar juga, mana level orang super kaya jalan jalannya nyobain bus 🙂 Saya jadi inget, bertahun-tahun silam saat busway masih baru ada dan saat saya masih jadi kuli di Jakarta. Ada wanita, sepertinya orang kaya, mau naik busway tapi wanita ini malah nyoba nyari pintu masuk terminal busway dari tengah jalan. Wanita ini nggak tahu cara naik busway dan wanita ini nggak nanya ke orang di sekitar. Saya yang ngeliat dari jauh nggak bisa ngasih tau wanita ini.  Beberapa orang, yang juga kuli seperti saya, bukannya ngebantuin malah nyorakin wanita ini. Mereka ngatain kalau wanita ini norak.  "Loh kok no

IBU-IBU

Image
Seorang teman sekelas, seorang ibu dengan tiga anak, ambil 5 matakuliah per semester (beban 1 SKS di USA dan di Indonesia, yang saya rasakan sangat berbeda jauh). Suaminya pun ambil S3 tapi di kota lain di USA. Tapi tetap saja beliau bisa perform dengan sangat luar biasa di kelas dan tetap menjadi ibu yang luar biasa bagi anak-anaknya. Anak-anak beliau yang masih SD bahkan sudah nerbitkan buku. Juga, ada teman saya yang lain, ibu dengan dua orang anak. Suaminya juga kuliah S3 tapi di benua yang berbeda. Juga dengan manajemen waktu yang entah bagaimana bisa tetap perform luar biasa bagus dan merawat anak-anaknya juga dengan sangat bagus. Saya yang ambil matakuliah lebih sedikit dan cuma berkewajiban menjaga diri sendiri saja pun sangat kewalahan dengan ritme perkuliahan di USA. Saya ke perpus/ studi room itu LITERALLY setiap hari, bahkan termasuk hari sabtu dan minggu. dari pagi setelah subuh sampai tengah malam masih sering buka laptop. Hanya saja biar nggak stress, saya berusaha a