Posts

Tempat Ternyaman

Image
TEMPAT TERNYAMAN Pertama kali datang ke perpustakaan kota di Columbus, Istri ngerasa takjub. Ada balita yang duduk selonjoran di lorong perpus. Ada kegiatan anak yang interaktif. Petugas perpus yang sangat ramah dan helpful. Bahkan, petugas perpusnya nawarin bantuan terus tanpa kita minta. Perpustakaan juga ramai dari beragam usia. Banyak kakek-nenek beruban, juga gak sedikit anak-anak yang antusias bolak-balik nyari buku di tiap pojokan rak. Saya jadi ingat bagaimana saya "dipaksa" untuk mencintai perpustakaan. Sejak dari SD sampai SMP saya gak pernah punya memori kalau saya jajan di sekolah. Saat SMA, saya cuma pernah jajan 3x selama 3 tahun dengan total jajan hanya Rp 1.500 Karena seringnya gak punya uang jajan, tiap jam istirahat saya lebih suka ngetem di perpus karena nggak punya opsi lain untuk nongkrong saat jam istirahat. Saat S1 pun sama saja. Jarak kampus-rumah PP sekitar 124 km, plus selalu berdiri di kereta lalu jalan kaki PP sekitar 10 km. Seringnya gak punya uan

SBMPTN

Image
SBMPTN Hari ini "SBMPTN" trending di twitter karena siswa yang baru lulus lagi deg-deg an nunggu pengumuman SBMPTN besok. Wah seru bisa ngerasain harap-harap cemas pengumuman. Dulu, saat saya lulus SMA, karena nggak punya uang, saya gak pernah daftar seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Di saat temen-temen seangkatan lagi tes, saya LITERALLY jalan kaki berpuluh kilometer bawa lamaran kerja sambil pakai kemeja putih, celana bahan hitam, dan sepatu pantofel butut. Ngelilingin pabrik-pabrik di wilayah Cikupa. Nanya ke satpam di sana ada lowongan atau nggak. Ya mirip gambaran yang suka ada di film film itu. Berhari-hari nyari kerjaan dg metode seperti itu gak dapat kerja ya akhirnya kerja apa pun yang penting halal. Mulailah saya kerja jadi sales panci dan macam macam kerja lainnya. 2 tahun kerja ngumpulin duit, tapi tetep aja uang gak cukup untuk daftar perguruan tinggi negeri. Akhirnya cari kuliah swasta dg jurusan berbiaya paling murah. Lucu memang, saya nyemplung di jurusan

JADI EAGLE ATAU TURKEY? PERBEDAAN BUDAYA

Image
"The Census Bureau found that one-third of men ages 22-34 live with their parents! What?? A third of our notion's MEN-in the prime of their lives- live in their childhood bedrooms or their parents' basements! Are you kidding me? It's time for the eagle to leave the nest; otherwise that eagle will get comfortable and turn into a turkey pretty fast" (Dave Ramsey) Penggalan paragraf di atas adalah contoh budaya Independen USA. Anak yang sudah dewasa (18+) akan keluar rumah dan menetap di apartemen mereka sendiri. Tidak ada yang salah dengan ini karena ini adalah bagian dari budaya USA yang menjunjung tinggi kemandirian. Namun, salah satu roommate saya, sebut saja namanya William, adalah antitesis dari gagasan ini. William, seorang kelahiran Asia Tenggara tapi sudah memiliki kewarganegaraan USA, setiap minggu mengunjungi ibunya di negara bagian lain. Bahkan, doi berencana mengurus pengunduran diri dan sedang mencari pekerjaan lain di dekat tempat tinggal ibunya agar b

MAKAN ES KRIM BARENG DOSPEM

Image
Kemarin dapat sms dari dosen pembimbing (dospem) yang nawarin beberapa barang. Beliau mau pindah sementara ke Los Angeles. Ada beberapa barang yang nggak mau beliau bawa akhirnya dihibahkan ke saya. Istri saya komen, "wah, profesor di sini yang ngajak ketemuan ya. Dulu, kita yang nyamperin dosen. Cuma untuk minta tanda tangan, kita harus nunggu lama. Malah karena saking sibuknya dosen kita gak bisa dapat ttd padahal udah dateng jauh-jauh". Bukan bermaksud membandingkan, tapi sepertinya beberapa orang relate dg kisah nunggu lama tapi dosen gak bisa ditemui. Saya termasuk yang beruntung karena sejak S1 sampe S3 selalu punya dospem yang luar biasa baik dan mudah ditemui. Di USA sini saya juga beruntung karena dospem saya membatasi jumlah bimbingan cuma 2 orang aja. Jadi, beliau bisa fokus ke kedua bimbingannya. Lanjut ke cerita kemarin: Dospem saya nganterin sendiri barang barang seperti meja kerja, 3 kursi kerja, dan beberapa peralatan masak ke apartemen saya. Bahkan, beliau s

ETIKA

Image
Beberapa hari lalu twitter, dan medsos lain, ramai sama postingan seorang perawat magang tentang masang kateter ke pasien cowok. Banyak netizen yang komen kalau itu tidak etis. Refleksi saya sebagai orang yang pernah ngajar di kampus: menurut saya, hal yang mirip juga terjadi di dunia kampus walau tidak sefrontal masang kateter ke lawan jenis. Ada beberapa dosen yang main posting aja kegiatan ngajar mereka di kelas. Masalahnya adalah pada video itu terang-terangan ada wajah mahasiswanya. Terlebih bisa jadi hal ini dilakukan tanpa izin terlebih dahulu ke mahasiswa-mahasiswa tersebut. Pun jika dosen bersangkutan sudah izin ke mahasiswa, dg karakteristik mahasiswa Indonesia, mungkin mahasiswa akan iya iya aja padahal dalam hati ada mahasiswa yang keberatan. Juga, saya pernah liat konten dosen yang nguji mahasiswa lantas memvideokan ujian skripsinya. Di video itu, mahasiswa nangis saat disidang. Wah, menurut saya ini adalah penyalahgunaan "kekuasaan" sebagai dosen. Bisa jadi kan

SUSU MURNI

Image
Saat lagi nunggu istri keluar dari kamar kecil di restoran, denger musik khas dari tukang susu legend yang musiknya itu "susu mu*ni nas*onal". Nginget nginget ternyata saya belum pernah beli susu itu sama sekali. Dulu, waktu masih kecil, pengen banget beli susu itu tapi gak bisa beli. Temen temen yang lain suka beli susu itu tapi saya cuma ngeliatin karena nggak punya uang untuk beli susu itu. Saat itu, anggapan saya adalah susu ini cuma bisa dibeli oleh anak-anak orang kaya aja karena zaman dulu, bagi saya, cuma anak-anak komplek yang biasanya beli susu ini. Lantas, saya mikir, "wah harus nyobain nih gimana rasanya susu itu". Mau memenuhi keinginan masa kecil yang belum pernah tercapai. Tapi, pas mau ngeluarin uang, saya sadar kalau saya lagi megang minuman dari restoran. Saya juga masih kenyang banget. Gak elok rasanya saya jajan berlebihan di saat banyak anak-anak lain nggak bisa jajan. Saya masih inget rasa sakitnya saat kita mau makan/minum/jajan tapi gak bisa

PULANG

Image
Saya nyoba nyari-nyari alasan untuk nolak tawaran ke Indonesia. Lantas, dospem nanya, "kenapa nggak mau ke Indnesia?" "Saya butuh dana penelitian untuk summer tahun depan. Bukan summer ini" Saya nyari alasan lain. Padahal alasan utamanya karena saya khawatir naik pesawat sendirian Dospem saya jawab, "Oh tenang aja. Tahun ini saya punya dana untuk kamu penelitian di Indonesia. Tahun depan saya juga masih punya dana untuk kamu. Begitu pula untuk tahun depannya lagi, saya masih ada dana untuk kamu pulang ke Indonesia". Dengar jawaban itu saya jadi wow saya bisa pulang ke Indonesia tiap tahun dengan budget dari Profesor pembimbing. PP Indonesia-USA itu tiket nya itu kisaran 30juta. Wah saya bisa berhemat 30 juta/ tahun. Saya tinggal nabung tiket untuk istri saja. Ternyata, Allah ngasih saya rezeki lain berupa pendanaan ke 2 negara bagian berbeda so saya punya kesempatan "latihan" naik pesawat dan akhirnya gak ngerasa khawatir sama sekali saat kemarin